Home
Virtual Gamelan Ver 1.0 ( Sold ) DIJUAL / SOLD WITH COPYRIGHT Virtual Gamelan ver 1.0 is a development and refinement of the Virtual Gamelan music has been previously registered in the office of the Directorate HKI in the register number C0920080009. In previous versions of the menu consists of two parts, namely orchestration and games. Orchestration menu is divided into gamelan and gamelan pelog slendro. While the version of the menu consists of learning development, orchestration, single user, and games. Technique plays / produces the sound of gamelan for the second version is still the same is by using the keyboard and mouse. Learning menu consists of four parts, namely instrumentation, playing techniques, forms gending and simulation. Orchestration menu remains the same as a previous version of gamelan and gamelan pelog slendro. Single user presents four parts, namely drums, kempul, saron bonang successors and successor. While the game only consists of game1 and game two. � Details...

VIRTUAL GAMELAN Gamelan Virtual ala Prembun Selasa, 22 Desember 2009 | 16:18 WIB Bagi siswa SMA Negeri 1 Prembun, Kabupaten Kebumen, komputer tidak lagi sebatas alat untuk mengetik atau mengakses situs jejaring sosial. Laptop sudah menjelma menjadi seperangkat alat musik gamelan. Dengan teknologi baru ini, para siswa tidak kerepotan jika tampil di luar kota. Misalnya saat tampil di Gedung Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Tengah di Kota Semarang, Minggu (13/12). Mereka cukup membawa sembilan unit laptop dengan program komputer bernama "Virtual Gamelan" yang sudah tertanam di dalamnya. Setiap laptop digunakan untuk memainkan satu jenis alat musik. Dwi Wibowo (20), siswa SMA 1 Prembun, bertugas memainkan bonang. Teman-temannya memainkan jenis alat musik yang berbeda. Seperti layaknya sebuah grup karawitan, keharmonisan yang mereka munculkan menghasilkan bunyi gamelan yang mirip aslinya. "Awalnya susah sekali memainkan gamelan dengan cara ini," kata Dwi. � Details...

UJIAN NASIONAL Sekitar 500 siswa dan guru SMA Negeri dan swasta di Bandung, Jumat (4/12) menggelar unjukrasa di halaman gedung DPRD Jawa Barat. Mereka menolak pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Koordinator Aksi Iwan Hermawan dari Gerakan Siswa & Guru (GSGB) Bersatu Tolak Ujian Nasional dalam orasinya menyebutkan, dengan adanya putusan Mahkamah Agung yang menolak permohonan kasasi pemerintah terhadap gugatan ujian nasional, GSGB meminta agar Ujian Nasional diserahkan kepada sekolah masing-masing. Menurut Sekjen Forum Guru Independent Indonesia (FGII) ini dalam putusannya MA memerintahkan kepada pemerintah bukan untuk menyelenggarakan Ujian Nasional, tetapi terlebih dahulu harus meningkatkan kualitas guru, sarana dan prasarana, serta akses informasi yang lengkap ke seluruh daerah, sebelum mengeluarkan kebijakan pelaksanan ujian nasional. � Details...

Menilik Alam dan Budaya Eksotik Pulau Nias JAKARTA (Investor Daily): Ya’ahowu!! Ucapan salam ini langsung terdengar saat Anda mendarat di Bandar Udara Binaka, Gunung Sitoli, Nias. Setiap hari, puluhan orang terlihat memadati Bandar Udara Binaka. Sejumlah turis asing pun tampak sibuk membenahi perlengkapan selancar mereka di sela aktivitas masyarakat lokal. Pulau Nias yang berlokasi di sebelah barat Pulau Sumatera, sekitar 85 mil laut dari Kabupaten Tapanuli Tengah atau Kota Sibolga, menjadi surga selancar bagi para penggila surfing. Bagi penggemar ombak lautan dan peselancar, keindahan pantai Sorake dan Lagundri yang terletak di Kabupaten Nias Selatan (Nisel) menjadi tempat perburuan ketiga di dunia. Ombaknya yang lincah nan gesit, menjadi ciri khas pantai Sorake dan Lagundri. Para pelancong mancanegara telah lama menggandrungi kedua pantai itu. Meski letaknya terpencil, ternyata tidak memupuskan keinginan para peselancar professional. Mereka pun unjuk kebolehan sekaligus menguji ketangkasan di atas papan selancar. Wilayah Pantai Sorake dan Lagundri masuk wilayah Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nisel. Meski tinggal di daerah wisata, kehidupan masyarakat setempat tidak seperti umumnya warga yang bermukim di pulau-pulau eksotik lainnya. Dalam suatu diskusi panel bertajuk Aramba yang digelar oleh Public Information Centre (PIC) Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Perwakilan Nias di Omo Bale Museum Pusaka Nias, baru-baru ini, beberapa elemen masyarakat menyatakan, penduduk asli Nias adalah sokhi, yang berarti baik. Menurut sesepuh adat Nias, ami li moroi ba go juga sudah mendarah daging di masyarakat asli Nias. Dengan kata lain, ucapan atau sapaan lebih berharga bagi masyarakat asli Nias, ketimbang makanan yang paling enak. Berdasarkan survei Kementerian Lingkungan Hidup pada 1987, masyarakat Nias setidaknya memiliki tujuh karaketristik khas. Ketujuh karakter itu antara lain, mereka masih percaya pada roh dan kekuatan gaib. Warga Nias lebih mengedepankan prestise daripada prestasi. Mereka sulit menerima hal baru sehingga hal-hal baru dianggap tabu. Penduduk Nias lebih mengutamakan kepentingan kelompok atau solidaritas kekerabatan ketimbang kepentingan umum. Orang Nias lebih senang menerima daripada memberi. “Masyarakat Nias juga bude-bude atau kurang gemar berterus terang,” kata Melkhior Duha, ketua Badan Pemberdayaan dan Warisan Nias. Melihat karakteristik tersebut, tak mengherankan jika situs megalitikum prasejarah masih tampak berdiri megah di Kecamatan Gomo. Situs itu diperkirakan telah berdiri lebih dari 3.000 tahun dan diyakini sebagai daerah awal mula penyebaran penduduk Pulau Nias. Perkampungan dengan rumah-rumah tradisional tampak masih utuh, asli, dan berdiri kokoh. Hal itu bisa dijumpai di Desa Bawomataluo dan Hilisimaetano. Tempat itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong. Satu-satunya rumah adat paling besar di Nisel terdapat di Desa Bawomataluo. Di Omo Sebua yang memiliki ukuran luas 300 meter ini banyak terdapat benda-benda dan ornamen. Benda-benda itu antara lain genderang perang berukuran besar, alat-alat perang, kepala rusa dan monyet, ukiran-ukiran patung dan rahang babi. Yang pasti, setiap benda tersebut memiliki nilai sejarah dan telah berusia ratusan tahun. Omo Sebua yang diperkirakan berusia 160 tahun, telah dihuni oleh beberap generasi. Selain digunakan untuk pertemuan para Si Ulu (golongan bangsawan) dan Si Ila, rumah adat besar itu dipakai untuk yang meletakkan jenasah para bangsawan. Keunikan lainnya yang terdapat di Desa Bawomataluo adalah budaya tarian perang dan lompat batu. Karena keunikan budayanya, pada 2004, World Monument Fund melalui hasil penelitian UNESCO, menetapkan Omo Hada (rumah adat) di Desa Hilinawalo Mazingo, sebagai salah satu dari 100 situs dunia yang harus dilestarikan, seperti halnya Candi Borobudur, Taman Sari di Yogyakarta, dan Tanah Lot di Bali. Keunikan lainnya adalah adat istiadat masyarakat Nias yang harus mengonsumsi daging babi tatkala menggelar prosesi kelahiran, perkawinan, kematian ataupun mangowasa (membuat atau menobatkan gelar adat) balugu (gelar adat Nias tertinggi). Sejak 1960-an, Kabupaten Nias yang beribukota di Gunungsitoli memang terkenal sebagai penghasil ternak babi yang sangat besar. Bahkan, hasil ternak mereka dapat dijumpai pula di Singapura. Berternak babi merupakan usaha yang sangat terkait dengan adat istiadat di Kabupaten Nias. Usaha pertanian tanaman pangan juga merupakan mata pencarian pokok penduduk Nias. Hasil pertanian mereka antara lain produksi tanaman pangan, seperti padi, palawija, dan hortikultura. Sebagian atau seluruh hasil pertanian itu dijual atau untuk menunjang kehidupan dan menanggung risiko. Komoditas andalan Kabupaten Nias lainnya adalah nilam. Komoditas nilam sempat mengalami booming pada 1997 hingga pertengahan 2000. Saat itu, harga minyak nilam pernah mencapai Rp 1,2 juta per kilogram. Ketika itu, kesejahteraan petani nilam di Kabupaten Nias sangat tinggi. Pulau Nias juga memiliki potensi ikan luar biasa, baik ikan untuk dikonsumsi maupun ikan hias. Terdiri atas 132 pulau besar dan kecil, Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan menyimpan aneka ragam kekayaan sumber daya laut. Terletak di sekitar garis khatulistiwa, rata-rata curah hujan di Kepulauan Nias cukup tinggi, yakni 260,00 mm per tahun. Akibat banyaknya curah hujan, kondisi alamnya pun sangat lembab dan basah. Musim hujan dan kemarau silih berganti dalam setahun. Keadaan iklim di kepualuan Nias juga dipengaruhi oleh Samudera India. Suhu udara berkisar antara 17o / 32,6o dengan kelembaban sekitar 80 – 90% dan kecepatan angin antara 5-6 knot per jam. Musim badai laut biasanya berkisar September sampai November, tetapi kadang terjadi badai pada Agustus. Namun, cuaca bisa berubah secara mendadak. Rekonstruksi Pascagempa Pulau Nias merupakan daerah yang terletak di salah satu area aktivitas seismik terbesar di dunia. Menurut Dick Beetham, ahli geologi dan gempa bumi dari Selandia Baru yang saat ini bertugas di BRR dan UNDP Nias, sepanjang 100 kilometer di arah barat Nias tepatnya di dasar laut sepanjang Sumatera dan Jawa, merupakan batas lempeng tektonik. Daerah itu merupakan lempeng India-Australia yang tengah bersubduksi di bawah Sumatera dan Jawa dengan lokasi di tepian lempeng Eurasia. Rata-rata gerakan relatif dari dua lempeng tektonik tersebut adalah 60 mm per tahun. Umumnya, lempeng-lempeng tersebut terkunci. Tekanannya bisa memunculkan suatu titik. Implikasinya, lempeng penghubung akan putus secara tiba-tiba dan menimbulkan gempa bumi dashyat. Musibah bencana alam tsunami yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada 26 Desember 2004 dan gempa di Nias pada 28 Maret 2006, akibat bagian terdekat dari lempeng penghubung tiba-tiba putus atau lepas. Bencana dashyat di Pulau Nias memberikan hikmah tersendiri bagi masyarakat Nias. Mereka menjadi terbuka bagi dunia internasional. Berbagai bantuan datang silih berganti dari negara-negara donor dan lembaga swadaya masyarakat LSM). Build back better pun dilakukan oleh BRR yang menetapkan anggaran Rp 10 triliun untuk pengembangan pulau Nias. “Kami ingin membangun Nias lebih baik,” kata William Sabandar, kepala kantor perwakilan BRR Nias. Seiring dengan derap rekonstruksi Nias, BRR juga melaksanakan proyek jalan masuk ke Pantai Sorake dan Lagundri. Bersama dengan organisasi Yayasan Peduli Pantai Sorake (YPPS) dan SurfAid, tengah diusahakan pula pembersihan dan penanaman pohon mahoni serta cemara laut di sepanjang pantai dan jalan ke Sorake. Untuk rehabilitasi rumah adat, khususnya di Kabupaten Nias dialokasikan bagi 50 unit rumah. Demikian juga di Nias Selatan (Nisel). Anggaran setiap unit rumah adat ditetapkan sebesar Rp 20 juta dengan total anggaran senilai Rp 2 miliar. Salah satu program rehabilitasi rumah adat yang berlokasi di Nisel, juga termasuk sebuah Omo Sebua di desa Bawamataluo yang sudah menjadi salah satu situs sejarah. BRR juga akan merevitalisasi kebudayaan Nias yang sudah lama tidak dilaksanakan, yang disebut fondrako atau musyawarah adat baik di Nias maupun Nisel. Fondrako merupakan musyawarah adat Nias tertua yang menghasilkan beberapa ketentuan dan aturan menyangkut ketenteraman dan aspek kehidupan masyarakat. Selain rencana pelaksanaan musyawarah adat fondrako, BRR akan merealisasikan satu program pembentukan pusat studi bahasa, seni, dan adat Nias. Pembentukan pusat studi ini diharapkan mendokumentasikan hal-hal yang berhubungan dengan bahasa, seni, dan adat istiadat Nias. Di bidang kesenian tradisional, BRR menyediakan beberapa perangkat alat musik tradisional seperti lagia, doli-doli, tutuhao, fondrabi, aramba (gong) sekaligus faritia. Aramba dan faritia merupakan alat musik yang digunakan pada upacara adat Nias. Demi melestarikan alat musik tradisional, BRR akan mengupayakan pembinaan terhadap pengrajin lokal. Saat ini, para pengrajin alat musik aramba dan faritia hanya menggunakan bahan baku lempengan besi dengan cara memukul. Dulu, mereka membuat aramba dan faritia dengan melebur besi dan mencetaknya dalam cetakan khusus. Pelestarian situs budaya pun tak luput dari program BRR. Untuk pelestarian situs budaya, direncanakan lokasinya di Kecamatan Gomo dan Lolowau. Sektor pariwisata di Nias dan Nisel, juga masuk dalam total angaran proyek BRR pada 2006. Di Nias direncanakan pada tiga lokasi dan Nisel satu lokasi yang akan dikembangkan, yaitu pantai Lagundri dan pantai Sorake. Nah, sudah saatnya Anda menjelajahi keindahan Pulau Nias ! (yip) Sumber: Investor indonesia, Sabtu, 15 Juli 2006� Details...

Download NFSP!

Gondang Terminologi “GONDANG” dalam bahasa Mandailing mengandung beberapa pengertian yaitu: alat musik, gabungan dari sejumlah alat musik (ensambel), nama lagu atau repertoar, irama atau ritmik, jenis musik tertentu, dan sebagai musik itu sendiri. Sehubungan dengan itulah situs ini diberi nama Gondang yang isinya memuat informasi tentang seni dan budaya suku-bangsa Mandailing. Suku-bangsa Mandailing bermukim di pedalaman pesisir pantai barat daya pulau Sumatra dan wilayah pemukiman mereka itu dikenal dengan berbagai nama sebutan yaitu Tano Sere, Tano Rura, Luat Mandailing atau Banua Mandailing yang memiliki batas-batas wilayah tertentu. Secara tradisional orang Mandailing membagi wilayah pemukiman mereka menjadi dua bahagian utama yaitu Mandailing Godang dan Mandailing Julu. Sebelum proklamasi kemerdekaan negara Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, wilayah Mandailing Godang berada dibawah kekuasaan raja-raja bermarga Nasution, sedangkan wilayah Mandailing Julu dikuasai dan diperintah oleh raja-raja bermarga Lubis. Di samping marga Lubis dan Nasution terdapat pula marga-marga lainnya seperti Pulungan, Rangkuti, Daulae, Hasibuan, Parinduri, Batubara, Dalimunte, dan sebagainya. Di sebelah utara, Mandailing berbatas dengan Angkola yang perbatasannya terletak di suatu tempat bernama Simarongit di Desa Sihepeng. Sedangkan perbatasannya dengan Padang Bolak berada di suatu tempat bernama Rudang Sinabur. Di sebelah barat Mandailing terletak wilayah Natal yang perbatasannya terletak di suatu tempat bernama Lingga Bayu. Sebelah selatan wilayah Mandailing berbatas dengan Pasaman (Sumatera Barat) yang perbatasannya terletak di suatu tempat bernama Ranjo Batu. Namun batas wilayah Mandailing dengan wilayah sebelah timur tidak diketahui karena tidak pernah disebut-sebut orang. Seperti halnya suku-suku bangsa lain di Nusantara, orang Mandailing juga memiliki aneka ragam musik tradisional yang keadaannya sangat memprihatinkan di era globalisasi ini karena semuanya sudah berada di ambang kepunahan. Adapun alat-alat musik tradisional Mandailing dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Membranofon : gordang sambilan dan gondang dua Aerofon : suling, salung, sordam, tulila, katoid, saleot, dan uyup-uyup Metalofon : ogung, momongan, doal, dan talisasayat Idiofon : etek, dongung-dongung, pior, gondang aek dan eor-eor Kordofon : gordang tano dan gondang bulu Repertoar musik tradisional Mandailing Gondang 1 Jolo-jolo Turun; 2 Alap-alap Tondi; 3 Moncak (Kutindik); 4 Raja-raja; 5 Ideng-ideng; 6 Tua; 7 Sampuara Batu Magulang; 8 Roba Na Mosok; 9 Mandailing; 10 Pamulihon; 11 Udan Potir; 12 Porang; 13 Sarama Datu; 14 Sarama Babiat; 15 Lima; 16 Roto; 17 Sampedang; 18 Aek Magodang (Touk); 19 Mamele Begu; 20 Tortor. Ende (Nyanyian) 1 Ungut-ungut; 2 Sitogol; 3 Jeir; 4 Bue-bue. Ende-ende (Pantun, sastra lama) Turi-turian (Cerita Bertutur) 1 Raja Gorga di Langit; 2 Nan Sondang Milong-ilong; 3 dan lain-lain. Logu (Leitmotivic) 1 Uyup-uyup; 2 opat-opat; 3 Ende Panjang; 4 dan lain-lain. sumber: www.edinasution.wordpress.com� Details...

Login



mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini80
mod_vvisit_counterKemarin97
mod_vvisit_counterMinggu ini584
mod_vvisit_counterMinggu lalu632
mod_vvisit_counterBulan ini2433
mod_vvisit_counterBulan lalu1384
mod_vvisit_counterSemua hari9846

We have: 3 guests online
IP anda: 38.107.191.101
 , 
Today: Jul 31, 2010
 
selamat datang di mediaedukasi.com
VIRTUAL GAMELAN PDF Cetak E-mail
Gamelan Virtual ala Prembun

Selasa, 22 Desember 2009 | 16:18 WIB

Bagi siswa SMA Negeri 1 Prembun, Kabupaten Kebumen, komputer tidak lagi sebatas alat untuk mengetik atau mengakses situs jejaring sosial. Laptop sudah menjelma menjadi seperangkat alat musik gamelan.

Dengan teknologi baru ini, para siswa tidak kerepotan jika tampil di luar kota. Misalnya saat tampil di Gedung Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Tengah di Kota Semarang, Minggu (13/12).

Mereka cukup membawa sembilan unit laptop dengan program komputer bernama "Virtual Gamelan" yang sudah tertanam di dalamnya. Setiap laptop digunakan untuk memainkan satu jenis alat musik.

Dwi Wibowo (20), siswa SMA 1 Prembun, bertugas memainkan bonang. Teman-temannya memainkan jenis alat musik yang berbeda. Seperti layaknya sebuah grup karawitan, keharmonisan yang mereka munculkan menghasilkan bunyi gamelan yang mirip aslinya. "Awalnya susah sekali memainkan gamelan dengan cara ini," kata Dwi.

Selanjutnya...
 
Fenomena Sejarah Virtual Gamelan PDF Cetak E-mail

 

Bagi guru-guru se Jawa Tengah sudah tidak asing lagi alias udah akrab bila mendengar virtual gamelan yang diciptakan oleh Joko Triyono guru SMA Negeri 1 Prembun Kebumen. Desember 2005 merupakan titik awal bagi seorang anak desa dalam penemuan ide pembuatan Virtual Gamelan yang dimunculkan di depan istrinya yang setia menemani dalam membuat media pembelajaran setelah bulan Nopember 2005 Joko Triyono terpanggil sebagai finalis dalam lomba pembuatan multimedia pembelajaran yang diadakan oleh Direktorat Pendidikan Menengah Umum, waktu itu baru mendapatkan penghargaan perunggu, begitu senangnya mendapat penghargaan nasional, ide yang telah dilontarkan pada istrinya langsung ditindaklanjuti dengan perancangan dan pengambilan suara, dalam setiap pengambilan suara Joko Triyono selalu melibatkan istrinya untuk membantu proses perekaman.. Maret 2006 karya Virtual Gamelan selesai dibuat, Mei 2006 mulai diujicobakan untuk pembelajaran musik gamelan di kelas x SMA Negeri 1 Prembun Kebumen, walaupun pada waktu itu hanya menggunakan komputer pentium 2 namun cara memainkannya bisa dengan keyboard atau mouse, dalam pembelajaran tersebut beliau juga minta rekannya mas Amad untuk mengambil video para siswa yang memainkan virtual gamelan. Bulan Nopember 2006 karya tersebut diikutsertakan dalam lomba pembuatan multimedia pembelajaran tingkat nasional yang diselenggarakan oleh direktorat Menengah Umum / direktorat pembinaan SMA dan mendapatkan penghargaan Silver waktu itu yang jadi juri termasuk Dr.Eng. Romi Satrio Wahono, Dr.Eng. Hendro Subagyo, di depan para finalis didemokan permainan virtual gamelan dengan mouse juga dengan keyboard ( mulai saat itulah Media Massa meliput ). Tahun 2007 hingga sekarang karyanya selalu disempurnakan. Tanggal 14 Mei 2008 mulai diajukan permohonan hak cipta ke Direktorat Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia. Tanggal 19 dan 21 Mei 2008 para siswa SMA Negeri 1 Prembun dengan virtual gamelannya diminta Universitas Dian Nuswantoro untuk pentas pada acara Festival Game Edukasi Dan Animasi Indonesia. Nopember 2008 mendapatkan prestasi penghargaan Emas tingkat Nasional dalam lomba pembuatan multimedia pembelajaran yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMA. Tanggal 28 Nopember 2008 SMA Negeri 1 Prembun diminta pentas di LPMP Jateng untuk mengisi acara lomba pembuatan bahan ajar berbasis komputer tingkat TK/SD, SMP, SMA, SMK. Tanggal 11 September 2009 sertifikat Hak Cipta telah keluar dan beliau dipanggil ke Jakarta. Lebih lanjut Joko Triyono juga menanyakan tentang kekuatan sertifikat hak cipta tersebut kepada petugas yang melayani, tandas petugas : karya anda itu program komputer yang cara memainkannya dengan menggunakan mouse atau keyboard sehingga bagi pihak lain yang mencoba mengembangkan harus ijin kepada anda kecuali dengan teknik lain. Tanggal 13 Desember 2009 SMA Negeri 1 Prembun Kebumen diminta pentas di LPMP Jateng dalam acara yang sama dihadiri juga oleh seluruh pengawas dan kepala sekolah se Jawa Tengah.. Tahun 2009 karyanya digunakan Universitas Dian Nuswantoro untuk Hibah Penelitian Strategi Nasional. Tanggal 25 Maret 2010 digunakan Universitas Dian Nuswantoro untuk pentas menyambut kunjungan tamu dari Chung Yuan Christian University Taiwan. Sebelumnya Joko Triyono diminta untuk memilih para mahasiswa yang mau jadi vokalis/sinden dalam virtual gamelan pesertanya hanya ada 8 mahasiswa yang mendaftar. Selain itu juga sekaligus melatih main virtual gamelan. Sampai saat ini karyanya terus disempurnakan, bahkan tidak hanya virtual gamelan karya-karyanya juga banyak. Kepada kedua putranya beliau berpesan bahwa virtual gamelan itu adalah sejarah. Untuk itu rawatlah dan jadilah orang yang kreatif tidak hanya mengekor atau plagiator, tidak hanya omong kosong tetapi ukirlah sebuah karya yang nyata. Walau umurnya sudah 45 th beliau juga ingin belajar terus, cita-citanya akan mengambil program pasca sarjana di UGM Yogyakarta. ( Dewa Sampurna)

 
Sejarah Virtual Gamelan PDF Cetak E-mail

JANGAN AMBIL KARYAKU ....

Petikan kalimat di bawah ini diambil dari sebuah blog buspaningtyas'blog dengan alamat : http://blog.beswandjarum.com/puspitaningtyasaisyah/ diambil tgl : 21 april 2010.

" virtual gamelan .....Program ini berawal dari proyek Universitasku (Udinus) yang ingin mempermudah masyarakat yang ingin bermain gamelan tetapi mempunyai kendala dengan harga gamelan asli yang lumayan mahal. Programmer dari software ini adalah bapak Joko Triyono, seorang mahasiswa S2 dari Udinus dan setahu saya beliau juga seorang guru kesenian di SMA Prembun" ( kalimat serta blog telah tersimpan sebagai bukti )

.........................................................................

kalimat di atas adalah bentuk usaha pengambil alihan sebuah ketenaran yang menurut hak kekayaan intelektual telah terjadi pelanggaran. karena pembuatan serta tujuannya secara khusus oleh Joko Triyono, tidak ada sama sekali kaitannya dengan proyek instansi manapun, hal ini telah disaksikan oleh banyak pihak seperti media massa : kompas, suara merdeka, tempo, dll. serta guru-guru se Jawa Tengah bahkan se Indonesia. bukti otentik berupa : video, program, serta sertifikat hak cipta.

Sejarah virtual gamelan :

- Penemuan ide Desember 2005, mulai dibuat perancangan

- bulan Maret 2006 selesai dibuat oleh Joko Triyono guru SMA N1 Prembun

- mulai diterapkan untuk pembelajaran mei 2006 di kelas x

- diikutkan dalam lomba media pembelajaran mendapat penghargaan silver nop 2006.

- dipentaskan di Udinus 19 dan 21 Mei 2008

- dipentaskan di LPMP Jateng tahun 2008 dan tahun 2009

 
Virtual Gamelan Ver 1.0 ( Sold ) PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Jumat, 09 Juli 2010 05:26


DIJUAL / SOLD WITH COPYRIGHT

Virtual Gamelan ver 1.0 is a development and refinement of the Virtual Gamelan music has been previously registered in the office of the Directorate HKI in the register number C0920080009. In previous versions of the menu consists of two parts, namely orchestration and games. Orchestration menu is divided into gamelan and gamelan pelog slendro. While the version of the menu consists of learning development, orchestration, single user, and games. Technique plays / produces the sound of gamelan for the second version is still the same is by using the keyboard and mouse. Learning menu consists of four parts, namely instrumentation, playing techniques, forms gending and simulation. Orchestration menu remains the same as a previous version of gamelan and gamelan pelog slendro. Single user presents four parts, namely drums, kempul, saron bonang successors and successor. While the game only consists of game1 and game two.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
UJIAN NASIONAL PDF Cetak E-mail

Sekitar 500 siswa dan guru SMA Negeri dan swasta di Bandung, Jumat (4/12) menggelar unjukrasa di halaman gedung DPRD Jawa Barat. Mereka menolak pelaksanaan Ujian Nasional (UN).

Koordinator Aksi Iwan Hermawan dari Gerakan Siswa & Guru (GSGB) Bersatu Tolak Ujian Nasional dalam orasinya menyebutkan, dengan adanya putusan Mahkamah Agung yang menolak permohonan kasasi pemerintah terhadap gugatan ujian nasional, GSGB meminta agar Ujian Nasional diserahkan kepada sekolah masing-masing.

Menurut Sekjen Forum Guru Independent Indonesia (FGII) ini dalam putusannya MA memerintahkan kepada pemerintah bukan untuk menyelenggarakan Ujian Nasional, tetapi terlebih dahulu harus meningkatkan kualitas guru, sarana dan prasarana, serta akses informasi yang lengkap ke seluruh daerah, sebelum mengeluarkan kebijakan pelaksanan ujian nasional.

Selanjutnya...